FGD Implementasi Integrasi Interkoneksi Islam, Sains dan Teknologi

Fokus studi dan telaah dalam makalah ini akan dititik beratkan pada kajian tentang relasi, relevansi, korelasi, dan integrasi antara Islam, sains dan teknologi. Kepercayaan dan keimanan Muslim bahwa agama Islam adalah untuk dunia dan untuk akhirat membawa kepada keyakinan bahwa antara Islam, sains dan teknologi tidak dapat diceraikan dan dipisahkan. Sains dan teknologi yang dihasilkan oleh para ilmuwan, intelektual, cendekiawan, saintis dan ahli teknologi Muslim tidak lain merupakan pengamalan ajaran Islam. Jika literasi intelektualitas, pencerahan ilmiah, pemahaman keilmuwan dan kecanggihan berteknologi itu berpangkal pada minat, dorongan dan budaya membaca, maka Islam telah meletakkan dasar dan fondasinya yang sangat fenomenal, akurat dan kuat. Hal ini secara jelas dapat diketahui bahwa wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah azza wajalla kepada Nabi Muhammad Shollallahu "alaihi wasalam melalui Malaikat Jibril adalah Surah al-‘Alaq ayat 1-5, yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah

Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam

Dan mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Atas perintah Allah, wahyu ini disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad ketika beliau sedang bertahannuts (berkontemplasi/bermeditasi) di Gua Hira’ di Mekkah pada tanggal 17 Ramadhan. Sungguh sangat menakjubkan dan mengesankan justru perintah pertama yang Allah sampaikan kepada Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca (iqra’), bukan perintah-perintah yang lain seperti misalnya perintah salat, zakat, puasa dan haji. Hal ini secara jelas memberikan pengertian bahwa Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui dan Sang Pemilik Segala Ilmu Pengetahuan sangat menekankan urgensi, relevansi dan arti penting menumbuhkan, membangun dan mengembangkan tradisi, motivasi, minat dan budaya membaca bagi manusia.

Dalam perspektif Islam, kata ”membaca” memiliki arti dan pengertian yang luas, yaitu membaca ayat-ayat qauliyah (wahyu/Alqur’an/ayat-ayat tertulis) dan membaca ayat-ayat kauniyah (alam semesta/ayat-ayat tidak tertulis). Kompilasi wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun disebut Alqur’an (secara harfiah arti kata Alqur’an adalah membaca; dari kata kerja qara’a-yaqra’u). Alqur’an berisi ajaran tentang akidah (tentang keimanan kepada Allah dan sifat-sifat-Nya serta masalah-masalah ghaib seperti akhirat, surga, neraka, dll), syari’ah, ibadah, akhlak, dan kisah-kisah umat terdahulu seperti kisah kaum Ad dan kaum Tsamud. Sebagaimana direkam dalam Alqur’an, kaum Ad dan kaum Tsamud dimusnahkan oleh Allah karena keingkaran dan kedurhakaan mereka kepada Allah. Kisah-kisah umat terdahulu menjadi ibrah dan pembelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam agar umat Islam tetap konsisten beriman kepada Allah agar tidak mengalami nasib seperti mereka.

Ayat-ayat kauniyah adalah alam semesta yang dicipatkan Allah. Umat Islam (khususnya para sarjana, ilmuwan, intelektual, cendekiawan dan saintis Muslim) hendaknya terpanggil secara moral dan secara intelektual untuk “membaca” alam semesta ini sebagai wahyu Allah yang tidak tertulis. Melalu ciptaan-Nya yang berwujud alam semesta ini, Allah menegaskan dan mengonfirmasi tentang kebenaran Eksistensi-Nya dan Kemahakuasaan-Nya sebagai Zat Tunggal yang berhak disembah, dipuja dan dipuji. Selain-Nya adalah makhluk biasa yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dipuja dan dipuji.

Melalui captaan-Nya yang berwujud alam semesta dan merupakan bentangan wahyu yang tidak tertulis ini, Allah mendorong para sarjana, intelektual, ilmuwan dan saintis Muslim untuk “membaca” alam semesta ini, memahami hukum-hukumnya, menelaah fenomenanya, dan membuka rahasianya dengan menggunakan kepekaan iman yang mendalam dan akal pikirannya yang rasional, cerdas dan kritis. Hasil studi, telaah dan kajian ilmiah tentang hukum alam, fenomena alam dan rahasia alam ini akan melahirkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dengan segala cabangnya (ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam) yang dihasilkan berdasarkan daya kepekaan iman dan kekuatan penalaran akal akan mengantarkan para ilmuwan Muslim semakin beriman, taqarrub dan takwa kepada Allah SWT.

Sudah pasti ada korelasi struktural, relasional dan fungsional antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Apa yang disebut hukum alam dalam ranah kajian ilmiah sebenarnya merupakan sunnatullah. Sebuah benda yang dilempar ke atas lantas jatuh, yang dalam wilayah ilmu pengetahuan disebut hukum gravitasi, sebenarnya merupakan sunnatullah. Tidak ada pertentangan antara ayat-ayat qauliyah dengan ayat-ayat kauniyah. Jika ada pertentangan antara keduanya, dapat ditengarai bahwa kajian akal-ilmiah-empiris belum maksimal atau perlu ada kajian ulang sehingga hasilnya sesuai dengan ayat-ayat qauliah. Rasio dan wahyu tidak perlu dipertentangkan. Rasio atau akal adalah anugrah Allah kepada manusia yang semestinya dipakai oleh manusia untuk mengkaji, menyetudi dan memahami secara sinergis ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah.

Akan tetapi tidak semua wahyu (ajaran Islam) yang diberitakan oleh Allah dalam Alqur’an dapat dinalar oleh akal manusia. Akal manusia terbatas dengan segala keterbatasannya. Ia hanya dapat melihat hal-hal yang tampak di alam fisik, dan itu pun sangat terbatas. Misalnya, seseorang tidak mungkin dan mustahil akan mengetahui seluk beluk kota New York nun jauh di sana. Rasio dan akal pikiran tidak dapat menjangkau dan mengetahui ha-hal yang metafisik. Masalah-masalah qhaib seperti keberadaan akhirat dengan segala pernak pernik kehidupan di sana, tentang surga dan neraka tidak dapat diilmiahkan, diakalkan dan dirasionalisasikan. Masalah-masalah ghaib bukan bidang akal dan sains untuk menjangkau dan menalarnya tetapi merupakan dogma yang harus diterima dengan penuh iman. Inilah kegunaan dan fungsi iman yang memang dipakai untuk mempercayai dan mengimani masalah-masalah ghaib yang diberitakan oleh Allah dalam Alqur’an.

Teknologi adalah ilmu pengetahuan terapan yang dipakai sebagai metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis. Sesuai dengan jenis, sifat dan kegunaannya, dewasa ini teknologi yang dihasilkan oleh kemampuan akal dan keterampilan tangan manusia sudah sangat beragam. Misalnya, ada teknologi pangan, teknologi pertanian, teknologi nuklir, teknologi transportasi dan teknologi informasi dan komunikasi. Berkat kemajuan teknologi komunikasi yang modern dan canggih, orang sudah dengan mudah bisa berkomunikasi langsung antarbenua. Jarak yang sangat jauh sekali pun sudah tidak lagi menjadi persoalan karena sudah ada alat komunikasi yang dipergunakan oleh manusia untuk bisa berkomunikasi secara langsung. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain sudah dapat disaksikan secara langsung di Tanah Air kita melalaui televisi atau video yang diunggah melalui media sosial. Di bidang pertanian, mesin traktor sudah menggantikan alat tradisional (bajak) sehingga para petani lebih mudah, nyaman dan praktis bercocok tanam di ladang dan sawah.

Islam adalah agama untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Islam bukan agama yang membelakangi dan acuh tidak acuh terhadap kehidupan dunia. Dalam Islam, kehidupan dunia harus dijalani dan manusia Muslim harus bergumul dengan kehidupan dunia dengan segala aspek dan tantangannya agar tetap survive. Teknologi adalah bagian penting dan strategis dari hidup dan kehidupan keduniawian. Sebagai agama yang diperuntukkan untuk kehidupan dunia, Islam tidak menolak jenis teknologi apa pun sepanjang teknologi itu diciptakan, dibangun dan dikembangkan sesuai ajaran dan nilai-nilai Islam demi kebaikan, kenyamanan, kepraktisan dan kesejahteraan hidup manusia. Seperti dikatakan di atas, umat Islam boleh dan bisa memanfaatkan teknologi komunikasi karena teknologi jenis ini dapat menghubungkan orang berbicara secara langsung antarkota, antarpulau dan antarbenua. Kemajuan teknologi transportasi (pesawat terbang yang modern dan canggih) telah membuat jamaah haji merasa mudah, nyaman dan praktis untuk pergi haji dan cepat sampai di Tanah Suci Mekkah dalam hitungan jam.

Akan tetapi Islam sangat menolak dan sama sekali tidak membenarkan penggunaan teknologi yang tidak sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Misalnya, teknologi kedokteran yang digunakan untuk praktik aborsi, sewa rahim dan bank sperma –seperti yang terjadi di negara-negara sekuler Barat– sudah pasti tidak dibenarkan dalam Islam. Jejaring media sosial yang dipergunakan untuk menyebar hoax (berita bohong, dusta dan palsu) atau dipakai untuk menyebarkan fitnah dan ucapan kebencian bermotif SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) sudah pasti tidak dibenarkan dalam Islam. Teknologi nuklir yang dipakai untuk tujuan perang dan memprodukasi senjata pembunuh massal, sudah pasti sangat dilarang dalam Islam. Ringkas kata, Islam menolak dan tidak membenarkan jenis teknologi apa pun yang dipergunakan untuk tujuan yang buruk, jahat, palsu, culas dan batil.

Dalam perspektif Islam, sebenarnya tidak ada masalah dan tidak ada yang salah dengan teknologi jenis apa pun. Sesungguhnyalah, teknologi itu bersifat netral. Ia ibarat pisau. Kalau digunakan untuk tujuan kebaikan, misalnya untuk mengupas mangga atau mentimun, sudah pasti pisau itu sangat bermanfaat. Kalau dipakai untuk berbuat jahat dan tujuan kriminal, misalnya untuk bunuh diri atau membunuh orang tidak berdosa, pisau itu mendatangkan mudarat. Dalam perspektif Islam, tekonologi jenis apa pun harus digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Islam, sains dan teknologi tidak dapat dipisahkan dan diceraikan. Memisahkan sains dan (penggunaan) teknologi dari agama akan menghasilkan sains sekuler dan penggunaan teknologi menjadi tidak terkendali dan jauh dari nilai-nilai agama. Dalam perspektif Islam, ajaran dan nilai-nilai agama secara konsisten selalu mengawal, mengendalikan dan mengarahkan (perkembangan) sains dan teknologi ke arah kebaikan, kebajikan dan kemaslahatan hidup manusia. Dengan demikian, sains dan teknologi selain selalu terkait, terhubung dan terintegrasi dengan agama, juga memberikan kenyamanan, kebaikan dan kemaslahatan dalam kehidupan manusia.*

*) Paper dipresentasikan dalam kegiatan FGD

Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek)

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijga

Hotel Grand Ambarukmo, 28 November 2018